Sedekah Bhumi, atau yang sering diterjemahkan sebagai “sedekah kepada bumi,” adalah ritual tradisional yang dilaksanakan oleh masyarakat agraris di Indonesia, khususnya Jawa. Secara turun-temurun, ritual ini dipahami sebagai ungkapan rasa syukur kepada alam atau Dewi Sri (Dewi Padi) atas hasil panen yang melimpah, sekaligus permohonan agar terhindar dari bencana di musim tanam berikutnya.

Namun, jika kita menanggalkan lapisan mitologi dan spiritualnya, Sedekah Bhumi mengungkapkan sebuah kearifan lokal yang luar biasa realistis dan pragmatis. Dari perspektif ekologi, ekonomi, dan sosial modern, Sedekah Bhumi adalah sebuah kontrak ekologis—sebuah mekanisme kolektif yang memastikan keberlanjutan sumber daya alam, bukan hanya ritual mistis. Memahami Sedekah Bhumi dari lensa realisme membantu kita mengintegrasikan kearifan masa lalu ini ke dalam upaya keberlanjutan di masa kini.
Sedekah Bhumi dalam Lensa Ekologis Realistis
Dalam konteks lingkungan, Sedekah Bhumi adalah praktik konservasi yang efektif:
1. Mekanisme Istirahat Tanah (Resting Period)
Ritual Sedekah Bhumi sering dilakukan pada … Read more