Di tengah keramaian malam dan dinginnya udara, ada satu hidangan yang selalu berhasil membawa kehangatan yang mendalam dan nostalgia yang kuat: Ronde. Minuman tradisional ini, yang sekilas terlihat sederhana, sejatinya adalah perwujudan kearifan kuliner Nusantara yang memadukan kehangatan rempah dengan tekstur lembut bola-bola ketan. Ronde bukan hanya sekadar minuman atau hidangan penutup; ia adalah ritual, teman setia saat musim hujan, dan simbol keramahan yang telah berakar kuat dalam budaya Jawa dan Tionghoa-Peranakan di Indonesia.

Mengenal Ronde adalah menyelami sejarah akulturasi budaya yang menghasilkan harmoni rasa, sekaligus menghargai khasiat herbal dari rempah-rempah yang menjadi inti kehangatannya.
Sejarah Singkat dan Akulturasi Budaya
Ronde memiliki akar sejarah yang menarik, menunjukkan kekayaan akulturasi di Indonesia. Hidangan ini diyakini terinspirasi dari makanan Tionghoa bernama Tangyuan atau Yuanxiao, yaitu bola-bola ketan yang disajikan saat Festival Lentera (Cap Go Meh).
Namun, seiring waktu, Tangyuan yang dibawa oleh imigran Tionghoa ke Nusantara mengalami transformasi signifikan. Sementara Tangyuan asli disajikan dalam kuah manis bening, masyarakat Jawa dan Peranakan mengadaptasinya dengan memasukkan rempah-rempah lokal. Hasilnya adalah kuah jahe yang kuat, pedas, dan hangat—lahirlah Ronde, sebuah hidangan yang sempurna disesuaikan dengan iklim tropis Indonesia yang lembap dan dingin di malam hari. Transformasi ini menjadikan Ronde sebagai simbol otentik akulturasi budaya.
Tiga Komponen Utama Sang Ronde
Keunikan Ronde terletak pada tiga komponen utamanya yang saling melengkapi:
1. Bola-Bola Ketan (Mochi/Ronde)
Bagian ini dibuat dari tepung ketan yang diuleni, dibentuk bulat-bulat, dan direbus hingga matang. Ronde seringkali hadir dalam dua variasi:
- Ronde Polos: Bola ketan putih tanpa isian.
- Ronde Isi: Bola ketan yang diisi dengan campuran kacang tanah sangrai, gula merah, dan sedikit santan atau tepung, memberikan sensasi manis dan renyah di dalam.
Tekstur kenyal dan lembut dari bola ketan ini memberikan kontras yang menyenangkan terhadap kuah rempah yang pedas.
2. Kuah Jahe Pedas (Kuah Ronde)
Ini adalah jantung dan jiwa dari Ronde. Kuah ini dibuat dari rebusan air, gula merah atau gula pasir, dan bahan-bahan rempah yang melimpah:
- Jahe: Bahan utama yang memberikan sensasi panas dan menghangatkan tubuh. Jahe juga dikenal memiliki khasiat anti-mual dan anti-inflamasi.
- Sereh (Serai): Memberikan aroma segar yang khas dan membantu meredakan flu.
- Daun Pandan: Memberikan aroma wangi yang lembut untuk menyeimbangkan aroma rempah yang tajam.
- Kayu Manis: Menambah kehangatan dan memiliki sifat antioksidan.
Kombinasi rempah ini menjadikan Ronde sebagai tonik alami yang sempurna untuk menjaga daya tahan tubuh, terutama saat pergantian musim.
3. Pelengkap dan Isian (Topping)
Ronde disajikan lengkap dengan berbagai isian yang menambah tekstur, gizi, dan rasa:
- Kacang Tanah Sangrai: Memberikan sensasi renyah dan gurih.
- Kolang-kaling: Buah dari pohon aren yang kenyal dan memberikan rasa segar.
- Roti Tawar: Dipotong dadu kecil-kecil, berfungsi sebagai penyerap kuah jahe yang kuat.
- Agar-agar atau Rumput Laut: Tambahan modern yang memberikan tekstur yang lebih beragam.
Ronde: Solusi Sehat Alami di Musim Dingin
Di luar kenikmatan rasanya, Ronde berfungsi sebagai obat tradisional ringan yang sangat efektif, sesuai dengan prinsip pengobatan herbal Indonesia:
- Menghangatkan Tubuh: Jahe yang dominan bekerja sebagai termogenik alami, melebarkan pembuluh darah perifer, sehingga sensasi hangat cepat menyebar ke seluruh tubuh, ideal untuk mengatasi masuk angin.
- Meningkatkan Imunitas: Berbagai rempah seperti jahe, kayu manis, dan sereh mengandung antioksidan dan senyawa yang membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menjadi pencegahan alami saat musim flu.
- Aromaterapi: Uap hangat dari kuah rempah yang dihirup saat menikmati Ronde juga berfungsi sebagai aromaterapi yang membuka saluran pernapasan dan memberikan efek menenangkan.
Kesimpulan: Kehangatan Budaya dalam Semangkuk Ronde
Ronde adalah representasi sempurna dari kekayaan kuliner Indonesia: sederhana dalam penampilan, kaya dalam rasa, dan dalam khasiat. Ia berhasil memadukan sejarah panjang akulturasi Tionghoa dan kearifan herbal Nusantara.
Menyantap semangkuk Ronde bukan hanya memuaskan selera; itu adalah ritual yang menghubungkan kita dengan tradisi, memberikan kehangatan fisik di tengah dingin, dan menawarkan manfaat kesehatan alami dari rempah-rempah terbaik Indonesia.
Saat dingin melanda, biarkan Ronde menghangatkan jiwa dan raga Anda.